text berjalan

"Assalamu'alaikum"

Senin, 01 Oktober 2012

Aksi geng Motor 1

VIVAnews - Kasus pengeroyokan yang dilakukan geng motor di Jakarta masih didalami penyidik Polda Metro Jaya. Polisi menduga aksi lanjutan yang terjadi secara beruntun merupakan aksi balas dendam.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, aksi brutal anggota geng motor di Jakarta sampai tiga kejadian. Aksi pertama pada 31 Maret 2012, dan menyebabkan satu orang meninggal dunia.

"Korban atas nama Arifin, dia anggota TNI Angkatan Laut, pangkatnya Klasi. Kejadiannya di Pademangen, Jakarta Utara," ujar Rikwanto, Selasa 10 April 2012.

Ditambahkan Rikwanto, setelah kejadian tanggal 31 Maret, kemudian terjadi lagi aksi lanjutan pada 7 April 2012 dan menewaskan satu orang bernama Soleh. Korban ditemukan tergeleak di SPBU Shell, Danau Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selain Soleh, ada dua korban lagi yang mengalami luka berat.

Kejadian terakhir pada 8 April 2012, di Jalan Raya Benjamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Dalam kejadian ini, lima orang mengalami luka tusuk dan satu motor dibakar.

"Untuk tanggal 7-8 April itu aksi balas dendam. Masih dilakukan pendalaman untuk korban pertama dan kedua, karena kejadiannya bersamaan sekitar pukul 02.00-03.00 WIB dini hari," jelas Rikwanto.

Saat ini, Polda Metro Jaya dengan Polres Jakarta Utara dan Jakarta Pusat membentuk tim untuk menyelidiki aksi saling serang kelompok geng motor ini. Sebagai tindakan preventif langsung dilakukan patroli pada lokasi tempat balap liar. Sementara mengenai siapa pelakunya, polisi sudah menemui titik terang dan segera dilakukan upaya penangkapan. "Saksi-saksi di lapangan sudah ada yang diperiksa," kata dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Angkatan Laut, Laksamana Untung Suropati, membenarkan bila dalam aksi geng motor, Klasi Satu (KLS) Arifin adalah anggotanya. Arifin bertugas sebagai staf di Mako Armabar.

Terkait dengan keterlibatan rekan-rekan Arifin yang diduga melakukan aksi balas dendam, Untung membantahnya. Menurutnya, kejadian tersebut memang beruntun, tetapi bukan kejadian lanjutan.

"Kalau dibilang lanjutan tidak tepat juga. Kalau lanjutan, abis kejadian meninggal pasti hari itu juga ada aksi balasan," kata Untung.

Sementara itu, pelaku yang diduga memiliki ciri-ciri badan tegap, rambutnya cepak dan sebagainya, lanjut Untung, itu merupakan suatu hal yang kebetulan sama. (umi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar